Senin, 30 Maret 2009

[resensi buku] Kasih Sepanjang Jalan, Mukjizat Sejauh Doa

Jawa Pos, 22 Maret 2009

TAHUN lalu Tiongkok sukses besar menjadi tuan rumah olimpiade. Mata dunia terbelalak ketika pesta skala dunia itu tergarap apik nan gemilang. Namun, negara mahabesar itu masih menyimpan warga yang hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Masih ada sebuah desa, Zhangjiashu namanya, yang di abad 21 ini membawa kisah perjuangan sebuah keluarga yang layak nian untuk dihayati.

Ma Yan, gadis beranjak remaja di Desa Zhangjiashu, suatu ketika dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena gagal dalam ujian bahasa Tiongkok, mata pelajaran terutama di sekolahnya. \"Setelah semua kerja keras yang kita lakukan, hanya inikah hasilmu?\" tanya ibunya dengan sengit.

Ibunya kemudian memarahi dia dengan kata-kata yang bagi Ma Yan cukup pedas di telinga. \"Kalimat-kalimat kemarahan ibu, alangkah tajamnya, barangkali lebih tajam dari pisau pengerat daging terkeras sekalipun,\" cerita Ma Yan.

Dalam kekesalannya, sang ibu sempat berujar kalau Ma Yan sebenarnya tak layak mendapat roti buatan ibunya. Nilai ujian Ma Yan tak sebanding dengan pengorbanan ibunya. Namun, tak terduga, ibunya malah bersikap lain tak lama setelah amarah besar itu. Diam-diam, lewat bibi Ma Yan, ibunya mengirimkan beberapa buah donat yang nikmat, dan baju hangat untuk melindungi Ma Yan dari hawa dingin.

Ketika melihat donat dan baju hangat itu, Ma Yan tak kuasa menahan diri dari tangis. Betapa besar kasih seorang ibu. Anak yang benar-benar dimarahi, benar-benar disayangi pula!

Kisah-kisah yang menyentuh seperti di atas menghiasi banyak halaman novel ini. Hanya saja, hampir selalu dilampiri dengan khotbah tentang hakikat hidup dan perjuangan meraih mimpi oleh penulisnya. Itulah yang sedikit mengganggu, sehingga iming-iming di sampul belakang buku yang menyatakan bahwa \"novel ini akan membuat Anda berurai air mata\", terkesan sedikit berlebihan. Kita tampaknya -- tentunya tanpa sengaja dilakukan oleh penulis -- diberi ruang terbatas untuk tenggelam dalam imaji yang penuh, karena muatan yang hampir sama besar dengan jalinan kisah di sepanjang buku ini adalah khotbah dan renungan dari para pencerita.

Para pencerita di novel ini ada tiga. Pertama, Ma Yan. Ia tekun menulis catatan perjuangannya meraih pendidikan. Kedua, ibunya. Ketiga, penulis sendiri, yang dalam hal ini lewat pemetaan renungan dan pemikiran Pierre Haski, jurnalis Prancis yang suatu ketika mampir ke Zhangjiashu. Nah, bila novel ini memang merupakan suatu kisah nyata, pilihan penulis untuk memasukkan tiga pencerita agak berlebihan. Sebab, kisah ini awalnya adalah catatan-catatan Ma Yan. Setelah mengalami konflik yang cukup berat untuk bertahan sekolah, ibunya bertemu dengan Pierre Haski. Ia serahkan catatan-catatan itu, lalu jadilah kisah ini.

Bila catatan-catatan itu kemudian dirajut menjadi sebuah tulisan dari sudut pandang Pierre Haski dan Ma Yan saja, tentu akan lebih pas. Ibu Ma Yan tak memiliki catatan apa pun, bahkan tidak bisa baca-tulis, bagaimana mungkin penulis bisa menggambarkan isi benaknya sedemikian banyak di dalam novel?

Juga, yang menjadi tanya besar: bagaimana kisah ini sampai di tangan Sanie B. Kuncoro? Apakah Sanie bertemu dengan Pierre Haski di Prancis, lalu mereka kemudian ke Tiongkok mewawancarai lagi Ma Yan dan keluarganya? Kita tidak tahu. Sangat disayangkan, proses kreatif ini tidak disampaikan dalam bab awal, prolog, atau catatan akhir, atau apalah. Hingga bagian akhir, yang ada hanyalah adegan manis kala Pierre Haski mengikuti seorang ibu dan anak yang berjalan bergandengan tangan. Gandengan tangan yang mengingatkannya pada tangan ibu Ma Yan, yang terkisah di dalam novel sebagai tangan berwarna tembaga, akibat lelah dan panas ditempa kerja keras dan sinar mentari.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, novel ini tergarap dengan bahasa yang sangat rapi. Detail-detail tentang kondisi alam, pergantian musim, dan mata pencaharian para penduduk Zhangjiashu dikisahkan dengan menarik dan wajar.

Selain itu, cerita perjuangan ibu dan ayah Ma Yan di novel ini menyentuh hati. Rasanya banyak orang telah tahu kegigihan orang-orang Tiongkok. Mereka terkenal tegar, selain gigih, dalam menghadapi berbagai kemelut hidup. Bila Anda pernah menyaksikan film indah besutan Zhang Yimou berjudul Not One Less yang mengisahkan kegigihan dan ketegaran seorang guru muda dalam mendidik anak-anaknya yang nakal di suatu pedalaman Tiongkok, maka Ma Yan mengisahkan kegigihan dan ketegaran seorang gadis beranjak remaja dalam menempuh pendidikan.

Dan, kekuatan niat menempuh pendidikan itu juga dirangkai dengan kisah kekuatan doa. Suatu malam Ma Yan menjalankan salat tahajud ketika menyerahkan ibunya kepada Tuhan, agar senantiasa dilindungi. Ibunya harus menempuh perjalanan 400 kilometer menuju perbatasan Ning Xia dan Mongolia Dalam, diangkut dengan traktor, mencari uang untuk anaknya itu. Kasih ibu sepanjang jalan, membuat Ma Yan menghaturkan doanya dengan sujud syukur nan penuh harapan.

Dan, ketika kasih ibu sepanjang jalan dinyatakan, mukjizat demi mukjizat pun terjadi dalam keidupan Ma Yan dan keluarganya lewat doa-doa yang dihaturkan kepada Sang Pemilik Hidup. (*)

*) Sidik Nugroho, Guru Sekolah Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo


www.dinamikaebooks.com

0 komentar: