Rabu, 28 Januari 2009

[resensi buku] Saat Realitas Benturan Budaya Dibungkus Jenaka

Media Indonesia, 27 Desember 2008

Seandainya boleh memilih, pastinya kita akan menghindari konflik. Lalu bagaimana bila di tengah konflik terdapat satu kata lain, yakni cinta? Bingung? Itulah sekilas gambaran novel kedua Ben Sohib. Dinamika konflik yang kompleks akibat benturan latar belakang agama dan budaya menjadi bahasan menarik. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul The Da Peci Code. Bestseller yang menjungkalkan tradisi memakai peci putih.

Konflik bermula ketika Rosid dan Delia yang berbeda keyakinan memutuskan untuk menikah. Kentalnya tradisi serta kepercayaan keluarga Rosid yang keturunan Arab-Betawi berbentur dengan latar belakang Delia yang notabene Katolik. Alhasil, percintaan dengan latar belakang Betawi Condet ini mendapat penolakan ayah Rosid, Mansur al-Gibran yang muslim tulen.

\"Kegelisahan Mansur berujung dengan memburu ramuan ajaib untuk memisahkan hubungan percintaan Rosid dengan Delia. Saya namakan ramuan Bui Jabal Bui,\" kata pemain sinetron Happy Salma di sela peluncuran novel kedua Ben Sohib, Rosid dan Delia, di kawasan Menteng, Jakarta (19/12).

Menurut Happy, novel kedua karya sosok kelahiran Condet ini mengandung realitas seni yang multiinterpretasi. Happy memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.

Di sisi lain Hikmat Kurniawan, pengamat Kebudayaan Betawi, menilai novel ini mampu mengisahkan khasanah sastra dunia, terutama Indonesia lewat sosok Rosid dan Delia. Pada kesempatan itu pula, Hikmat memuji keberanian Ben Sohib mengisahkan realitas sosial dan budaya yang dinilainya sebagai masalah yang gawat.

Gawat karena masyarakat jarang membicarakan hal tersebut. Ben mampu menggambarkan realitas benturan, seperti benturan jodoh, agama, serta budaya dengan bahasa yang simpel. Apalagi novel ini dikemas dengan tata bahasa yang dilematis, menggelitik, jenaka, sekaligus menggoda. (*/M-l)


www.dinamikaebooks.com

0 komentar: